Langkah Penuh Kenangan

Kala itu dingin begitu menusuk, perasaanku sedikit gugup ketika matahari mulai menghilang dan tirai-tirai biru tua pun dibentangkan di langit berhiaskan bintang malam. Walau sang aurora tidak mampu mencapai tempat ini, cahaya putih berlian-berlian langit malam ini sudah cukup menghiasi hamparan atap gelap waktu itu. Aku yang sempat belajar sedikit tentang astronomi pun mulai mencoba melukis langit dengan jari telunjukku, kutarik telunjukku dari sebuah bintang ke bintang lainnya hingga membentuk sebuah garis penghubung yang akhirnya membentuk konstelasi yang indah. Aku tak begitu ingat konstelasi apa yang kulihat, aku terlalu sibuk menikmati pemandangan yang menghampar di lautan penuh bintang bersama kabut malam.

Satu demi satu langkah kulalui, otot-otot mulai terasa diikat dengan seutas tali yang sangat kuat dan  punggung terasa begitu berat seakan-akan aku menyimpan palu legendaris Thor yang berasal dari mitologi Nordik. Hampir tiap sepuluh langkah aku berhenti sembari melihat sekeliling berusaha menemukan pegangan dan tempat yang cukup landai untuk beristirahat. Jalur pendakian di kala itu sangat terjal, tidak seperti yang kubayangkan, bagaimana tidak aku harus terus berpaju ke atas melawan matahari yang semakin lama semakin terlelap. Tanpa bantuan tangan yang memegang ke setiap batu untuk menunjang pendakian, rasanya sangat mustahil untuk sampai ke puncak. Sesekali aku melihat ke belakang, dari bawah terlihat pancaran cahaya putih diikuti suara orang berbicara yang terdengar begitu samar-samar. Bisikan itu awalnya mengejutkanku, namun aku lega sekiranya kalau terjadi apa-apa ada yang bisa menolong. Semakin ke atas, perjalanan terasa semakin ramai. Aku yang berada hampir tertinggal dibelakang kadang harus melawan keletihan otot-otot ini untuk mengurangi jarak dengan kelompok di depan atau setidaknya tidak menambah jarak dengan mereka.

Tidak lama kemudian terdengar suara semak belukar yang  terurai oleh pijakan kaki-kaki misterius, kali ini sedikit berbeda suara itu tidak berasal dari bawah kami melainkan dari atas. Sejenak aku berhenti dan menarik napas dalam-dalam terdiam melihat langkah itu semakin mendekat. “apa yang terjadi?” aku berkata di dalam hati, bayang-bayang itu semakin mendekat hingga akhirnya orang itu berada tepat di depanku, bukan hanya sendiri paling tidak mereka berjumlah sekitar tiga sampai empat orang. Mereka berpapasan denganku satu per satu tanpa menghiraukanku. Rasanya aneh malam-malam begini mereka turun dari atas meninggalkan momen matahari terbit yang akan terjadi besok pagi. “Adakah sesuatu yang mendesak? Ah lupakan saja, yang penting aku sekarang harus bisa sampai ke atas!.” Beberapa saat setelah berpapasan aku menoleh ke arah mereka, rasanya ada yang ganjil dengan mereka. “Mereka mengenakan celana pendek!” aku terkejut. Bagaimana mungkin mereka bisa tahan dengan cuaca sedingin ini dengan celana pendek sedangkan aku saja sudah berselimutkan tiga lapis baju dan jaket, ditambah lagi kaos kaki yang entah berapa lapis dan sarung tangan seadanya. Aku tak mau terkejut telalu lama sehingga tertinggal lebih jauh dari teman-temanku, aku melanjutkan pendakian sembari mencoba mengapus rasa penasaranku tentang gerombolan celana pendek tadi.

Bagi kalian yang sering melakukan pendakian, mungkin hal tadi adalah sesuatu yang biasa. Sayangnya aku bukan orang seperti itu, sejak kecil aku adalah orang yang lebih senang tinggal di rumah ditemani sekardus mainan dengan warna yang berbeda-beda, masa kecilku penuh dengan imajinasi. Sayangnya hal itu melalaikanku dari olahraga, fisikku bisa dikategorikan lemah. Sewaktu SMA setelah menemani ayah mengangkat kayu yang lumayan berat tanpa pemanasan, aku roboh tergeletak tanpa bisa berdiri, dokter mengatakan kalau aku terkena vertigo. Inilah mimpi burukku, hal yang paling kutakuti saat memuncak, bagaimana jika dalam pendakian aku terkena vertigo. Jangankan berdiri, duduk saja sudah cukup membuat dunia ini berputar-putar dalam penglihatanku. Namun, itu sudah lama sekali dan belum pernah terjadi untuk kedua kalinya saat itu.

Malam yang sepi, namun hatiku ramai dengan kekhawatiran. Khawatir aku tidak akan sampai di atas. Berkali-kali teman-temanku yang berada beberapa meter di atasku mengatakan bahwa kita akan sampai di puncak sedikit lagi,  namun kata-kata itu bagaikan kalimat yang ditulis menggunakan pensil dan siap dihapus kapan saja menggunakan penghapus. Berkali-kali aku bertanya, berkali-kali mereka menjawab, dan berkali-kali pula harapanku sirna. Aku hanya termenung dan tetap menjaga langkahku, tidak ada pilihan lain, tidak mungkin aku kembali ke bawah, kalau pun berhasil ke bawah aku akan tetap sendirian di sana. Langkah demi langkah aku lalui, tak peduli berapa lama lagi aku akan tiba.

Sebuah perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah

Terdengar dari atas suara keramaian pertanda kami akan sampai sedikit lagi. Dan hal itu jadi kenyataan, kami berhasil, berhasil sampai ke puncak. Kami mulai sibuk memasang tenda, beberapa sudah sibuk membuka bekal makan malam mereka demi menghilangkan kelelahan tubuh ini. setelah memasang tenda aku melihat ke atas langit bersyukur karena aku sekarang berada lebih dekat dengan bintang-bintang yang bertaburan di atasnya. Aku terkejut melihat bintang-bintang itu, mereka terhampar bagaikan pasir putih di langit, bersinar, kadang redup. Aku sampai-sampai tidak bisa membedakan rasi-rasi yang pernah aku baca, mereka terlalu banyak dan berkilauan. Sekali-kali aku berharap bisa melihat bintang jatuh, namun sekali lagi dingin mengalahkanku. Dingin seakan-akan menggiringku masuk ke tenda untuk menyadarkanku akan satu hal fatal yang kami lupakan.

Kami tidak membawa sleeping bag. Ini adalah hal yang begitu fatal, bukan karena kami lupa, tapi karena kami memang tidak memasukkannya di daftar list. Maklum saja, kebanyakan dari kami hanyalah pendaki amatir dan pemula. Tak ada yang mengingatkan akan pentingnya sleeping bag. Akhirnya kami harus tidur dipeluk oleh udara malam, pelukannya begitu menusuk seakan-akan mencoba membuatku tetap terjaga. Aku berusaha keras untuk tidur, tapi hal itu sepertinya mustahil. Sekat antara malam dan pagi pun semakin menipis menyisahkan kelelahan tiada tara. Tidak ada pilihan lain aku harus melewati hari ini tanpa tidur, berusaha tidur pun rasanya mustahil.

Pancaran cahaya kuning bertaburan dari arah timur pertanda sang raja hari telah memulai langkahnya. Cakrawala tidak lagi gelap, namun keemasan. Senja pagi pun terlukiskan jelas menemani harapan kami yang hampir sirna, dia datang membawakan kehangatan dan mengusir udara dingin yang memiluhkan. Aku lelah, tapi rasanya semua ini terbayarkan oleh pemandangan ini, oleh kehangatan ini, oleh kebersamaan ini, oleh kesadaran bahwa dunia ini begitu luas, begitu indah, begitu harus dijelajahi. Ini langkah pertamaku, langkah yang memulai ribuan langkah selanjutnya, langkah penuh kenangan.

20140530_055136 (2)

Gunung Prau – Indonesia, 30 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s